Kesuksesan pasangan ganda campuran bulutangkis Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir meraih medali emas mendapatkan apresiasi tinggi dari pemerintah Indonesia.

Pemerintah menjanjikan peraih emas Olimpiade mendapat bonus Rp 5 miliar. Bukan itu saja, pemerintah juga akan memberikan tunjangan sebesar Rp 20 juta per bulan seumur hidup. Hal ini merupakan kemewahan yang baru pertama terjadi.
Kemenpora segera mencairkan bonus yang sebelumnya dijanjikan kepada peraih medali Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, apalagi Indonesia sudah memastikan meraih emas dari bulu tangkis.
"Akan segera diurus. Paling cepat bonus akan cair dalam tiga pekan karena ada prosedur yang harus dilalui," kata Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Gatot S. Dewa Broto di Jakarta,
"Medali emas mendapatkan tunjangan per bulan Rp 20 juta, perak Rp 15 juta, perunggu Rp 10 juta. Seumur hidup. Tentu ini adalah sejarah, belum pernah ada sebelumnya. Ini jaminan, sekaligus memungkinkan bagi semua atlet," kata Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.
Biasanya tak ada tunjangan seumur hidup seperti ini. Setelah mendapat kemenangan, atlet akan dibanjiri bonus. Tapi setelah karir olahraga selesai, tak ada perhatian yang diberikan pemerintah. Tak mengherankan atlet - atlet Indonesia yang berprestasi membawa nama Indonesia didunia internasional, menjadi miris kehidupannya dimasa tua, terlunta - lunta dan menderita.

Karena itu banyak atlet nasional yang kerap meminta dijadikan pegawai negeri sipil (PNS) agar mendapat kepastian penghasilan setiap bulan usai tak berkarir di olahraga.
Bonus besar memang penting, tapi jaminan hidup selepas tak bisa bertanding juga tak kalah penting.
Banyak ditemukan atlet berprestasi hidup suram di masa tua. Petinju Ellyas Pical misalnya, di tahun 1980an dia membuat nama Indonesia harum di dunia. Lama tak terdengar kabar, Elly ditemukan menjadi office boy di kantor Kemenpora.
Ada lagi nama Lenni Haeni. Atlet dayung ini total mempersembahkan 20 medali untuk Indonesia. Pada Sea Games 1997 yang diselenggarakan, Lenni sukses mendulang tiga medali emas dan satu medali perak.
Namun itu dulu, saat Lenni masih mampu menghantarkan merah putih berdiri kokoh di tiang bendera Sea Games, namanya selalu dielukan. Selepas 'menggantung' dayung, kehidupan Lenni seolah memprihatinkan.
Untuk menyambung hidup, dirinya bekerja sebagai buruh cuci dan bekerja serabutan. Bahkan pada 2012, Lenni tidak mampu untuk membiayai pengobatan anaknya yang menderita hepidemolosis gulosa (kulit sensitif) di RS Cipto Mangunkusumo.
Masih banyak kasus serupa. Jika ada tunjangan setiap bulan, cerita sedih seperti ini mungkin tak terjadi. Harapan ini dituturkan seorang atlet.
"Kalau bonus tidak bisa mengelola pasti cepat habis. Memang banyak atlet tak pintar berbisnis. Bingung uang bonus dipakai buat apa. Rata-rata habis bukan untuk usaha," kata seorang atlet nasional yang enggan disebutkan namanya sebagaimana dilansir dari laman merdeka.com.
Menurut pria ini, tunjangan seumur hidup akan sangat membantu atlet selepas mereka tidak lagi berkarir di olahraga.
"Kita jadi bisa fokus total saat bertanding buat negara. Benar-benar fokus tanpa perlu memikirkan nanti habis bertanding kita bakal jadi apa. Kalau sekarang sehabis PON misalnya, bingung mau apa lagi ya? Kalau tidak ke SEA GAMES, nanti dapat uang dari apa ya? Kerja kantoran agak sulit, banyak atlet yang mengorbankan pendidikan mereka. Ini yang disayangkan sebenarnya. Tapi buat prestasi kadang harus memilih salah satu," bebernya.
"Namun, dengan situasi saat ini dimana pemerintah sekarang memberi perhatian lebih kepada para atlet seperti kami, ini sangat kami apresiasi," lanjutnya kemudian.
0 Response to "Jokowi Usung Menpora: Jangan Ada Lagi Atlet Jadi Buruh Cuci, OB, dan Terlunta-lunta, bonus Rp.14 M Cair + Tunjangan Seumur Hidup."
Post a Comment