Ditengah Kasus Penistaan Agama, Kenapa Ahok Masih Unggul...??? Ada 7 Sebab, Ini dia...

Rapat Pleno KPU DKI ,26 Pebruari 2017 telah mengumumkan hasil final perolehan suara masing masing pasangan calon sebagai berikut:
Ahok-Djarot memenangkan pertarungan pilgub DKI putaran pertama dengan meraup suara 2.364.577(42,99%), disusul pasangan Anies-Sandiaga memperoleh 2.197.333(39,95%) dan pasangan Agus-Sylvi mendapat suara 937.955(17,05 %).


Image result for AHOK PENISTAAN AGAMA

Menarik untuk mengamati kemenangan Ahok-Djarot ini mengingat pasangan ini mendapat serangan yang dahsyat berkaitan dengan ajakan untuk tidak memilih pemimpin yang tidak seakidah serta tuduhan dan dakwaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Berikut ini review tentang hal tersebut. Sebelum Ahok mendaftar di KPU DKI sudah muncul himbauan, saran dan juga fatwa agar Ummat Islam tidak memilih pemimpin yang bukan Muslim. 

Tidak dapat dinafikan tujuannya adalah agar Ummat Islam tidak memberikan suaranya untuk Basuki Tjahaja Purnama. Hal ini antara lain muncul pada acara Silaturrahmi Akbar Ummat Islam di Mesjid Istiqlal tanggal 18 September 2016.  Pada kesempatan tersebut telah memberikan tausyiah antara lain,Amin Rais,Hidayat Nur Wahid,Yusril Ihza Mahendra, Bachtiar Nasir,Didin Hafidhuddin dan Imam Besar Front Pembela Islam,Habib Rizieq. 

Pada intinya keseluruhan tausyiah yang disampaikan mengajak ummat Islam agar tidak memilih pemimpin yang musyrik dan munafik.Sudah dapat diduga yang dimaksud kan tentu Ahok ,Gubernur DKI. Ahok yang berpasangan dengan Djarot Syaiful Hidayat mendaftar di KPU DKI pada 23 September 2016 kemudian mantan Bupati Belitung Timur tersebut membuat blunder dengan ucapannya yang berkaitan Al Maidah 51 tanggal 27 September di Kepulauan Seribu.

Reaksi dan protes terhadap ucapannya mulai muncul terutama sesudah Buni Yani tanggal 5 Oktober memposting di akunnya potongan video berisi ucapan Ahok yang dapat disimpulkan oleh Ummat sebagai penistaan agama.Majelis Ulama Indonesia Pusat tanggal 11 Oktober 2016 mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa ucapan Ahok merupakan penistaan agama dan juga penghinaan kepada ulama. Sesudah terbitnya fatwa tersebut mulailah muncul aksi unjuk rasa menuntut Ahok agar dipenjarakan diawali dengan Aksi Bela Islam jilid I pada tanggal 14 Oktober 2016. 

Ketika Ahok belum juga dipenjarakan reaksi ummat makin keras lagi sehingga digelar Aksi Bela Islam Jilid  Dua pada 14 November 2016 .Aksi yang dikordinir oleh Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI( GNPF MUI) itu tercatat sebagai demo yang paling besar  ,damai dan fenomenal sepanjang sejarah republik ini. Atas desakan massa aksi pada 4 November, Wapres Jusuf Kalla berjanji proses hukum Ahok dalam 2 minggu kedepan sudah punya wujud dan 16 November 2016 oleh penyidik Bareskrim Polri ,Ahok ditetapkan sebagai Tersangka pada kasus penistaan dan penodaan agama. 

Walaupun Ahok telah ditetapkan sebagai Tersangka tapi ia tidak ditahan dan bebas melaksanakan aktivitasnya.Melihat kondisi ini Ummat Islam kembali menggelar aksi besar pada 2 Desember 2016 yang dikenal dengan Aksi Bela Islam III yang kemudian tercatat sebagai Sholat Jum'at dengan jemaah terbesar yang pernah terlaksana di bumi ini dan Presiden Jokowi,Wapres Jusuf Kalla dan beberapa petinggi negara lainnya ikut sebagai makmum.

Selanjutnya pada 11 Pebruari Ummat Islam berkumpul lagi di Mesjid Istiqlal mengadakan sholat Subuh berjamaah yang diisi dengan tausyiah serta zikir bersama. Sebelumnya pada sidang pengadilan ke-8 kasusnya,Ahok dianggap tidak wajar memperlakukan KH Ma'ruf Amin ,Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat dan juga Rois Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Ummat Islam termasuk warga Nahdhiyin memprotes perilaku mantan Bupati Belitung Timur tersebut dan Ketua Umum PB NU,KH Said Aqil Siraj telah memberi instruksi agar warga NU tidak memilh Ahok. 

Dengan serangkaian aksi ummat Islam dengan tausyiah dan fatwa yang disampaikan para ulama ternyata pada 15 Pebruari ,pada Pilgub DKI,pasangan Ahok -Djarot masih unggul dari 2 pasangan calon lainnya sehingga pasangan petahana ini melaju ke putaran kedua yang pada tanggal 19 April nanti akan bertarung dengan Anies-Sandiaga Uno. Pertanyaan yang muncul kenapa Ahok-Djarot ditengah tekanan politik yang demikian hebat masih perkasa sedangkan jumlah pemilih non Muslim di DKI hanya sekitar 15 %.

Apakah Aksi Bela Islam dan tausyiah serta fatwa ulama tidak lagi didengar oleh ummat Islam DKI? Pada poin inilah kita harus berlapang dada untuk mengkaji kenapa hal itu bisa terjadi.Kemungkinan ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. 

Pertama, sebahagian Ummat Islam di DKI tidak pernah mendengar berita bahwa ada fatwa atau seruan ulama agar tidak memilih pemimpin yang Non Muslim. 

Kedua, mereka mengetahui adanya aksi besar ummat Islam yang berunjuk rasa tapi kemungkinan tidak mengetahui pesan yang disampaikan aksi itu agar tidak memilih Ahok. 

Ketiga, Ummat Islam ada mendengar fatwa/himbauan ulama tapi tidak mengikutinya karena dia sudah punya pilihan politik sendiri artinya lebih penting baginya menuruti pilihan politiknya ketimbang mengikuti fatwa/himbauan ulama. 

Keempat,Ummat Islam mendengar dan mengetahui adanya fatwa/himbauan ulama tapi menurutnya tentang pilihan politik bukanlah porsi ulama untuk mencampurinya. 

Kelima,ada ummat Islam yang memaknai fatwa/himbauan ulama sarat dengan kepentingan politik.Pemahaman seperti ini telah memandang ulama sebagai bahagian dari tokoh yang bermain di lapangan politik praktis.

Keenam,ada Ummat yang beranggapan Ahok tidak melakukan penistaan agama karena menurut kepercayaannya Al Maidah 51 bukan berkaitan dengan pemilihan pemimpin. 

Ketujuh,ada ummat Islam yang masuk kategori " abangan". Untuk memahami pengertian ini selayaknya kita meminjam teori yang dikemukakan Clifford Geertz dalam bukunya yang terkenal " Religion of Java".

Geertz adalah seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat dan telah banyak melakukan penelitian di Indonesia Religion of Java adalah sebuah karya besar atau magnum opusnya yang merupakan hasil penelitiannya di Mojokuto kota kecil di Jawa Timur. Geertz mengelompokkan  masyarakat Jawa kedalam 3 golongan yaitu ,priyayi,santri dan abangan. 
Secara sederhana " abangan " diartikan kepada pemeluk Islam tetapi tidak acuh terhadap doktrin agama. Beragama Islam tapi belum tentu menjalankan ibadah sesuai tuntunan Islam.Pandangannya tentang hidup sering dipengaruhi oleh mistisme Jawa ,kepercayaan kepada mahluk halus ,tradisi pengobatan dan magis menunjuk kepada seluruh tradisi keagamaan abangan.
Tentulah untuk Islam Abangan ini fatwa/seruan ulama tidak punya daya ikat dalam pandangan hidupnya. Oleh karena penulis tidak punya data tentang komposisi pemilih Jakarta maka adanya pemilih yang termasuk kategori abangan hanyalah asumsi semata. 
Tetapi dari keseluruhan isi artikel ini pesan yang disampaikan ialah kenapa fatwa atau seruan ulama tidak terlalu efektif pada Pilgub Jakarta dan pada poin inilah perlu pengkajian secara jernih dan objektif yang tentunya bermanfaat untuk masa yang akan datang. Salam Persatuan!


BACA JUGA: Tak Cuma Pasang Badan, Mendagri Juga Siap Di Berhentikan Demi Kasus Ahok

Astagfirullah ya Allah, Polisi Mengambil Bnedera Tauhid saat menyambut raja salman
Sekian berita yang dapat yang bagikan, semoga bermanfaat..
Bantu Share yaa..terimakasih

0 Response to "Ditengah Kasus Penistaan Agama, Kenapa Ahok Masih Unggul...??? Ada 7 Sebab, Ini dia..."

Post a Comment